seni

Mengenal Ekspresi Seniman J.Ariadhitya Pramuhendra

Galeri Nasional Indonesia tampak berbeda dari biasanya. Di fasad depan bangunan, tampak dua dinding besar dari semen dan arang setinggi 5 meter yang menghiasi. Sekilas seperti ‘tembok ratapan’ tapi itu bukan tembok biasa.

Tiba di bagian dalam Galeri Nasional Indonesia, petugas bertudung serba hitam memberikan lilin. Pengunjung bisa mengintip Paus berpakaian warna merah yang baru saja dilantik tertidur, mencium tanah sambil telungkup.

Masuk ke dalam lagi, suasana sudah berbeda. Seperti berada di dalam gereja tua yang gelap, ada altar untuk berdoa, lilin-lilin yang dinyalakan, dan lukisan para santo dan tokoh Alkitab.

Ada 11 karya seni ciptaan seniman J. Ariadhitya Pramuhendra yang dipajang di pameran tunggal ‘The Monster Chapter II: Momentum’. Sebagian besar karyanya ada di dalam Gedung A, B, dan area outdoor.

“Pertanyaan pertama tentang pameran ini sebenarnya apa sih yang paling menghantui. Bukan masalah religiusnya seseorang tapi memori tentang gambar-gambar Kristen di peradaban, memori tentang ayah saya yang suka menggambar sosok-sosok suci, dan secara tidak sadar masuk ke dalam diri saya.

Pria yang akrab disapa Hendra tumbuh di lingkungan Katolik. Karya-karya yang ada di pameran tunggalnya berkaitan dengan pengalaman masa kecil dan sejarah peradaban Kristen yang tercermin dalam berbagai ekspresi karyanya.

Bagi Pramuhendra, kata ‘monster’ yang menjadi seri trilogi pameran tunggalnya bukan sosok makhluk menyeramkan. Namun monster berarti masa lalu, impiannya sampai membuatnya hidup hari ini.

“Monster itu tidak selalu hal yang menyeramkan tapi ada satu bagian yang monster adalah imajinasi dan hantu saya sendiri. Dan segala sesuatu yang selalu menghantui saya,” katanya.

Teknik Chiaroscuro dari pelukis Caravaggio asal Italia pun kerap mempengaruhi Pramuhendra dalam berkarya. Teknik ini pula yang menimbulkan kesan dramatis sekaligus lebih simpel tak seperti seniman pada umumnya.

Ia pun memaknai kembali karya Caravaggio dengan teknik serta material arang yang digunakan. Lewat karya-karyanya, lulusan Seni Grafis ITB berharap pengunjung bisa merasakan dan memaknai ruang yang ada di pamerannya.

“Saya mengajak kita semua merasakan sensasi ruang, pengalaman ruang. Karya kontemporer bukan masalah lukisan, tapi gimana bisa melihat karya, merasakan, dan memaknai karyanya,” pungkasnya.

Pameran tunggal J. Ariadhitya Pramuhendra yang didukung GNI dan ArtDept ID berlangsung mulai 22 Maret hingga 7 April 2019.

Comment here